D-8 Halal Expo Indonesia Hari Kedua, Catat Beragam Potensi Kerja Sama
Press Release

D-8 Halal Expo Indonesia Hari Kedua, Catat Beragam Potensi Kerja Sama

09 July 2026 Admin Media Center

Hari kedua penyelenggaraan D-8 Halal Expo Indonesia (D-8 HEI) kembali memfasilitasi penguatan jejaring kerja sama nyata antara pelaku usaha Indonesia dengan negara-negara anggota D-8.

Jakarta, 9 Juli 2026 – Hari kedua penyelenggaraan D-8 Halal Expo Indonesia (D-8 HEI) kembali memfasilitasi penguatan jejaring kerja sama nyata antara pelaku usaha Indonesia dengan negara-negara anggota D-8.

Pada hari kedua ini dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) dengan Indonesia-Bangladesh Chamber of Commerce and Industry (IBCCI). Penandatanganan dilakukan oleh Ketua KPMI Rachmat Sutarnas Marpaung dan Presiden IBCCI Mohammed Riyadh Ali, disaksikan oleh Duta Besar LBBP RI untuk Bangladesh Listyowati dan Direktur Bisnis dan Kewirausahaan Syariah KNEKS Putu Rahwidhiyasa.

Nota ini memuat kerja sama promosi ekonomi, keuangan dan perdagangan halal antara KPMI dan IBCCI, dalam kerangka business-to-business.

Diselenggarakan juga business matching di sektor pangan, farmasi dan kesehatan. Dua perusahaan besar asal Bangladesh, Akrij dan PRAN Foods, menjajaki peluang kemitraan strategis dengan PT. Indofood, difasilitasi KBRI Dhaka dan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS). Delegasi Iran-Indonesia Trade Center (IITC) juga menjajaki kerja sama dengan PT Bio Farma dan PT Kimia Farma dalam produksi obat-obatan. Delegasi IITC hari ini juga melakukan pertemuan dengan Kementerian Pertanian guna membahas peluang pertukaran teknologi peternakan.

Di gelaran HEI Talks, dua sesi talk show diselenggarakan dengan narasumber dari berbagai latar belakang. Sesi pertama bertajuk “Driving the Future of Global Halal Trade: Strategic Synergies Between Indonesia, Pakistan and Iran” menghadirkan Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi, Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Zahid Hafeez Chaudhri, serta Helma Agustiawan dari PT Soka Cipta Niaga. Membahas tantangan bersama negara D-8 dalam menembus pasar halal non-tradisional, terutama mengenai urgensi harmonisasi standardisasi sertifikasi halal di tingkat global.

Sesi kedua mengupas inovasi hulu melalui tema “Halal Critical Raw Material Innovation”. Menghadirkan Direktur Investasi dan Ekonomi Kreatif Kemlu Royhan Nevy Wahab, Guru Besar IPB University Prof. Mala Nurilmala, dan Direktur Produksi PT Phapros Ida Rahmi Kurniasih. Sesi ini membedah potensi besar 'blue food' (pangan olahan dari komoditas perairan, hewan halal, dan bioteknologi mikroba) sebagai sumber alternatif bahan baku halal. Langkah ini mempertegas komitmen Indonesia dalam memberdayakan blue economy guna mendorong pembangunan ekonomi halal yang berkelanjutan.

Kemeriahan D-8 HEI masih akan berlangsung hingga 12 Juli 2026 di Senayan Tennis Indoor Stadium, Jakarta. Memasuki hari kedua, pameran tidak hanya dipadati oleh exhibitor multi-sektor, tetapi juga menarik arus pengunjung internasional dari berbagai negara, seperti Bangladesh, Iran, Mesir, RRT, hingga Aljazair. Daya tarik D-8 HEI semakin lengkap dengan kehadiran area kuliner autentik khas negara D-8, seperti stan kuliner tradisional Turki, Malaysia, dan Bangladesh yang ramai dipadati pengunjung.

Tentang D-8 HEI

D-8 HEI merupakan bagian dari rangkaian Keketuaan Indonesia pada D-8 periode 2026-2027 yang akan berlangsung mulai tanggal 8 hingga 12 Juli 2026. Mengusung tema “Strengthening D-8 Halal Economy Through International Collaboration”, ajang ini dirancang sebagai platform utama bagi para pelaku bisnis, pelaku industri, investor, serta pembuat kebijakan untuk memperkuat rantai pasok halal di lingkungan D-8 sekaligus membuka akses yang lebih luas ke pasar global.

D-8 HEI akan mendukung Indonesia menjadi salah satu hub ekonomi halal.  Melalui D-8 HEI, kerja sama business-to-business (B2B) antar negara D-8 and beyond di berbagai sektor unggulan halal diharapkan semakin erat. Sinergi ini sekaligus menjadi langkah strategis untuk mendukung target pencapaian volume perdagangan intra-D-8 sebesar USD 500 miliar pada tahun 2030. Tidak hanya menghadirkan korporasi skala menengah dan besar, D-8 HEI juga mengusung pelaku UMKM dari sektor kuliner, fashion, kerajinan tangan, pariwisata halal, digital, dan lain sebagainya.